Para orang tua ingat berikan imunisasi bagi bayi anda

Hal itu menyebabkan mereka mudah tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan terhadap penyakit tersebut. Imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa dan secara luas diakui sebagai

Saat ini di Indonesia masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap bahkan tidak pernah mendapatkan imunisasi sedari lahir. Hal itu menyebabkan

Saat ini di Indonesia masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap bahkan tidak pernah mendapatkan imunisasi sedari lahir. Hal itu menyebabkan mereka mudah tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan terhadap penyakit tersebut. Imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif (hemat biaya) di dunia. Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan sejak 2014-2016, terhitung sekitar 1,7 juta dan lebih dari 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, yang membuat mereka sangat berisiko untuk menderita penyakit-penyakit yang berpotensi mematikan. Dari anak-anak ini, 1 dari 10 anak tidak pernah menerima vaksinasi apapun, dan umumnya tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan. Memperluas akses imunisasi adalah hal yang sangat penting dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDG).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap itu terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.

Terkait capaian imunisasi, cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2017 mencapai 92,04%, melebihi target yang telah ditetapkan yakni 92% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7%, juga melebihi target 45%.

Sementara tahun 2018 terhitung Januari hingga Maret imunisasi dasar lengkap mencapai 13,9%, dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 10,8%. Target cakupan imunisasi dasar lengkap 2018 sebesar 92,5% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta 70%.

Mengapa anak perlu diimunisasi ?

Pasti Anda pernah bertanya-tanya, “Mengapa bayi saya perlu diimunisasi?” Jawabannya sederhana: untuk mencegah anak Anda terserang penyakit infeksi menular.

Setelah itu, mungkin Anda bertanya lagi, ”Lalu mengapa setelah diimunisasi bayi saya malah panas?” Itu merupakan respon tubuh terhadap imun yang  dimasukkan dan bergabung dalam tubuh anak sehingga sistem imun (kekebalan tubuh) anak menjadi lebih kuat.

Namun, sebenarnya bukan itu saja yang menjadi alasan mengapa Anda harus membawa anak untuk diimunisasi. Terdapat tiga alasan penting mengapa imunisasi wajib untuk semua bayi:

  • Imunisasi cepat, aman, dan sangat efektif.
  • Sekali anak Anda diimunisasi, tubuh anak dapat melawan penyakit lebih baik.
  • Jika anak tidak diimunisasi, anak akan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian.

Suntikan saat imunisasi mungkin membuat si kecil sakit, namun suntikan ini dapat memberi sistem kekebalan tubuh yang berlipat pada anak. Imunisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan bentuk lemah dari virus atau bakteri penyakit, sehingga memicu respon kekebalan tubuh anak, menyebabkan tubuh memproduksi antibodi untuk melawan penyakit tersebut.

Suatu saat, jika anak terserang penyakit tersebut, maka anak sudah mempunyai pasukan antibodi yang mampu melawan penyakit tersebut.  Inilah bagaimana imunisasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh anak.

Kapan imunisasi diberikan ?

munisasi sangat penting dilakukan pada bayi, imunisasi merupakan langkah awal untuk mencegah anak dari bahaya penyakit. Dalam artikel ini akan dibahas imunisasi apa saja yang wajib dilakukan oleh bayi dan kapan?

jadwal imunisasi

jadwal imunisasi bayi

Untuk memahami tabel jadwal imunisasi anak perlu membaca keterangan tabel:

Cara membaca kolom usia : misal berarti usia 2 bulan (60 hari) s.d. 2 bulan 29 hari (89 hari)

Kolom warna:
Hijau: imunisasi untuk perlindungan optimal
Kuning: melengkapi imunisasi yang belum lengkap
Biru: booster
Pink: daerah endemis

1. Vaksin hepatitis B (HB)

Vaksin HB pertama (monovalen) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya.

Jadwal pemberian vaksin HB monova- len adalah usia 0,1, dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda.

Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

2. Vaksin polio

Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.

3. Vaksin BCG

vaksin bcg

ilustrasi vaksin bcg

Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.

4. Vaksin DTP

Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan vaksin DTPa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin tersebut yaitu usia 2, 4, dan 6 bulan.

Untuk anak usia lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap. Untuk DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

5. Pneumokokus (PCV)

dapat diberikan pada anak usia 7-12 bulan sebanyak 2 kali dengan interval 2 bulan. Bila diberikan pada anak usia di atas 2 tahun, PCV cukup diberikan sebanyak 1 kali. Vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan infeksi telinga.

6. Vaksin MMR/MR

vaksin mr

ilustrasi vaksin mr

Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR/MR.

7. Vaksin rotavirus

Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia > 15 minggu), dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 24 minggu.

Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia > 15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.

*a Vaksin rotavirus monovalen tidak perlu dosis ke-3

8. Vaksin influenza

Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis 0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL.

9. Vaksin campak

Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah mendapatkan MMR.

10. Vaksin varisela

vaksin bcg

ilustrasi vaksin bcg

Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.

11. Vaksin human papiloma virus (HPV)

Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV tetravalen dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja
usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis.

*b HPV: Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis

12. Vaksin Japanese encephalitis (JE)

Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun
berikutnya.

13. Vaksin dengue

Diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan.

 

Akibat bila terlambat imunisasi anak

Apakah akan berdampak pada kesehatan anak bila terlambat jadwal imunisasi? Bila pemberian imunisasi terlambat dari jadwal, sebenarnya tidak akan mengurangi efektivitas vaksinasi tersebut untuk membentuk imunitas tubuh.

Namun, selama jangka waktu keterlambatan tersebut, antibodi yang dimiliki anak untuk melawan jenis penyakit tersebut akan melemah. Akibatnya, anak lebih rentan terserang penyakit tersebut.

Jika terlambat, orang tua tidak perlu mengulang pemberian vaksinasi dari awal, melainkan cukup memberikan imunisasi lanjutannya. Lain kali, usahakan agar imunisasi dilakukan tepat waktu. Melakukan imunisasi sesuai jadwal bisa melindungi anak dari penyakit secara optimal. Plus, juga akan memudahkan orang tua mengecek kelengkapan pemberian imunisasi.

1 thought on “Para orang tua ingat berikan imunisasi bagi bayi anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *