Orang tua waspada! pnumonia juga bisa menyerang balita

Karena mirip selesma (pilek), pneumonia pada bayi sering diabaikan orangtua. Padahal, dalam satu hari, dua juta orang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Ketua Umum IDAI Dr. Badriul Hegar, SpA(K) mengatakan pneumonia merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Pneumonia dapat terjadi pada orang dengan usia berapa pun, dari bayi hingga orang tua. Basah-basahan dalam hujan tidak menyebabkan pneumonia, melainkan infeksi dari bakteri atau virus.

Ketua Umum IDAI Dr. Badriul Hegar, SpA(K) mengatakan pneumonia merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Pneumonia dapat terjadi pada orang dengan usia berapa pun, dari bayi hingga orang tua. Basah-basahan dalam hujan tidak menyebabkan pneumonia, melainkan infeksi dari bakteri atau virus.

Batuk dan pilek yang bertambah parah juga bisa menyebabkan pneumonia. Ini karena batuk atau flu yang parah akan membuat paru-paru iritasi sehingga bakteri atau virus pneumonia bisa lebih mudah bergerak ke dalam paru-paru dan memulai infeksi.

“Mungkin karena gejalanya mirip selesma biasa, dan tidak ada efek dramatis, seperti langsung meninggal atau cacat, maka orang sering mengabaikan penyakit ini. Padahal, penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh. Hal inilah yang masih banyak belum dipahami para orangtua,” ujar Dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), Kepala UKK Respiroksi PD-IDAI seperti ditulis, Kamis (3/3/2011).

Berdasarkan data dari organisasi kesehatan dunia (WHO), pneumonia pada anak merupakan penyebab 16 persen kematian anak-anak balita pada tahun 2015. Pneumonia pada anak bahkan diklaim merupakan penyebab kematian anak tiap 20 detik.

“Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat AIDS, malaria, dan campak, jika digabungkan. Setiap tahun, terjadi 155 juta kasus pneumonia di seluruh dunia. Indonesia, merupakan negara dengan tingkat kejadian pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia,” jelasnya.

Balita Paling Rentan

Menurut Budi, pneumonia disebabkan oleh kuman, bisa berupa bakteri atau virus, yang mencapai paru-paru melalui beberapa rute. Pertama, kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Kedua, menyebar melalui darah.

Bayi baru lahir merupakan kelompok paling rawan yang rentan tertular pneumonia dari ibunya melalui jalan lahirnya saat proses persalinan. Selain bayi, anak-anak dengan sistem imunitas yang rendah juga termasuk kelompok yang rawan terkena pneumonia.

“Balita yang tidak menerima ASI eksklusif, akan kekurangan zat seng. Begitu juga dengan penderita AIDS atau campak, memiliki risiko pneumonia tinggi,” tambah Budi.

Anak-anak yang tinggal di pemukiman yang kumuh, miskin, padat, jorok, dan kotor, juga termasuk kelompok yang beresiko lebih tinggi terkena pneumonia, dibanding kelompok di atas.

“Tempat tinggal mereka itu sangat tinggi polusi serta pajanan asap rokok dan sisa pembakaran,” ujar Hegar.

Kenali Gejalanya

Gejala pneumonia pada anak bermacam-macam, tergantung usia dan penyebabnya:

  1. Biasanya didahului gejala selesma berupa demam yang disertai batuk dan pilek, sakit kepala, dan hilang nafsu makan.
  2. Pada perkembangan selanjutnya, akan timbul 2 gejala penting pneumonia, yaitu napas cepat dan sesak napas.
  3. Jika usia anak kurang dari 2 bulan, napasnya lebih cepat dari 60 kali per menit. Jika usianya 2-12 bulan, napasnya lebih cepat dari 50 kali per menit. Sedangkan jika usianya 1-5 tahun, napasnya lebih cepat dari 40 kali per menit.
  4. Untuk kategori sesak napas, ditandai dengan napas pendek, hidung kembang kempis.
  5. Pada kasus pneumonia berat, terlihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), kejang, penurunan kesadaran dan suhu tubuh.

Sedangkan infeksi oleh virus terjadi lebih pelan, dan kadang anak tidak terlihat terlalu sakit. Bahkan bisa jadi ibu tidak menyadari anaknya terkena pneumonia. Pneumonia pada bayi mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda khas infeksi pneumonia. Selain itu, bayi juga tidak bisa diajak berkomunikasi untuk mengetahui apa yang ia rasakan.

rontgen pneumonia
ilustrasi foto rontgen pneumonia

“Orangtua bisa melakukan penghitungam napas ini di rumah, untuk penentuan awal apakah anaknya mengalami napas cepat atau tidak. Jika memang benar, segera larikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika tidak, bisa fatal akibatnya,” ujar Budi.

Tips mencegah penumonia:

Ada beberapa cara dalam mencegah pneumonia pada anak :

  1. Berikan ASI secara ekslusif kepada bayi selama 6 bulan
  2. Penuhi asupan gizi bayi dan balita, terutama vitamin A dan mineral seng (zinc)
  3. Memberikan vaksin PCV, yaitu jenis vaksin pneumokokus dan vaksin konjugasi yang digunakan untuk melindungi anak-anak dan orang dewasa dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumonia (pneumokokus).
  4. Berikan imunisasi lengkap pada anak, yaitu DPT (untuk mencegah terjadinya batuk
  5. rejan/100 hari/pertusis) dan campak (untuk kekebalan terhadap pneumonia dengan mencegah virus campak masuk ke paru-paru), influensa, Hib, dan pneumokokus (agar kebal dari kuman pneumonia).
  6. Jaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dari polusi udara, seperti asap rokok,pembakaran sampah, dan kendaraan.
  7. Istirahat yang cukup juga sangat penting, karena kurang tidur dapat membuat sistem kekebalan tubuh lebih sulit untuk melawan infeksi.
  8. Jangan lupa cuci tangan anak, tentu saja. Teratur mencuci tangan dengan sabun dan air dapat mencegah anak terkena flu atau batuk melalui bakteri dan virus yang bisa mengakibatkan pneumonia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *